Chapter 31

 

Meskipun sekarang sudah musim panas, aku sama sekali belum memiliki perkembangan dengan gadis di bimbel itu.
Tapi aku sudah tahu namanya sekarang. Yorino Aoi-chan.
Seperti biasa, aku tahu dengan cara mencuri lihat pada nama yang tertulis di bukunya.
Aoi-chan. Nama yang cocok sekali.
Tapi aku mendapat perasaan kalau sifat penguntitku malah semakin kuat dan kuat.
Kurasa aku tidak bisa menertawai Kaburagi lagi…

 

 

Akan tetapi satu kesempatan tiba-tiba muncul.

 

Seperti biasa, aku sedang dalam posisi stand-by di samping Aoi-chan sementara aku mengamati situasinya.
Dan saat aku melakukan itu, Aoi-chan tiba-tiba menjatuhkan pennya!
Secepat kilat, aku langsung mengambilnya!

 

“Ah-…”

 

Karena telah kehilangan pennya, Aoi-chan melihatku dengan panik.
Inilah kesempatanku! Kesempatan sekali seumur hidupku!

 

“Umm…”

 

“N-, N-, Namaku Kisshouin Reika! Gokigen’yoh!”

 

Tangannya Aoi-chan meraih ke arah pen yang kugenggam dan berhenti dalam keragu-raguan di tengah, tapi ini adalah sandera yang berharga. Aku tidak akan menyerahkannya dengan begitu mudah.

 

“Hmm…”

 

Aahh, dia takut padaku.
Kenapa? Apakah karena mataku yang bersinar seperti predator? Apakah karena rambut gaya bor ku?
Tidaaaaak, aku sama sekali tidak menakutkan, kau tahu!?
Sebuah bukaan, cari sebuah bukaan…
(TL : An opening, look for an opening…)

 

“Aku juga suka ‘Tarow the Taro’!”

 

“Eh-”

 

Aku memutuskan untuk terus-terang saja.
Untuk memulainya, alasan aku ingin berteman dengannya toh karena aku melihat yuru-chara yang tidak populer itu di tasnya.

 

“Semenjak aku melihat, um, gantungan kunci ‘Tarow the Taro’ milikmu, aku telah ingin berbicara denganmu.”

 

Aahh, rasanya kok jadi seperti suatu pernyataan cinta.
Tanganku bergetar karena gugup. Jantungku juga berdebar-debar.

 

“Jadi, um, mungkinkah kamu mau jadi temanku?”

 

“…”

 

Uwahh, sepertinya aku akan menangis karena kegugupanku.
Oniisama, aku bermaksud untuk dengan sungguh-sungguh menjadi lebih dekat dengannya, tapi aku malah melompati jurang di antara kami dalam sekali jalan!
Apa yang harus kulakukaaan? Tolong akuuuuuu!

 

“…Um, penku, tolong kembalikan.”

 

“……………”

 

Aahh, berakhir sudah.

 

Aoi-chan mengerutkan keningnya seperti Tarow.
Tentu saja dia tidak akan mau berteman dengan gadis sepertiku.
Tentu saja. Seorang Rococo palsu adalah tipe yang paling buruk untuk Aoi-chan, bukan.
Aku hanyalah si gadis rambut gaya bor.
Oh begitu ya.
Maafkan aku. Aku tidak akan mengikutimu ke mana-mana lagi. Gadis rambut bor ini akan pergi dalam diam…
Aku menyerahkan pennya kepada Aoi-chan.
Aku tidak akan menangis.

 

Oniisama, aku telah ditolak.
Aku akan pergi sekarang…

 

“…Mohon bantuannya.”

 

Setelah menggenggam pennya dengan erat, Aoi-chan berpikir sebentar, tapi kemudian dia mengangkat kepalanya untuk melihatku sebelum mengatakan itu.

 

Hah?

 

“Namaku, Yorino Aoi.”

 

Aku tahu. Karena aku adalah seorang calon penguntit.

 

“Mari berteman”

 

Setelah mengatakan itu, Aoi-chan tersenyum.

 

EHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!?

 

“Benarkah?”

 

“Mn.”

 

Eh-, kenapa!? Meskipun kamu begitu takut padaku, kenapa!?

 

“Tapi, kamu kan menghindari aku?”

 

Saat aku mengatakan itu, Aoi-chan jadi kelihatan sedikit canggung.
Aku telah menanyakan sesuatu yang tidak perlu.

 

“Karena, kamu bilang kamu suka ini,”

 

Katanya, sambil menunjuk gantungan Tarow nya,

 

“Belum pernah ada orang yang mengatakan kalau mereka menyukainya.”

 

“Aku juga sama!”

 

Sebenarnya aku belum pernah bertanya ke sana sini, tapi jangankan ada orang yang memberi tahu bahwa mereka suka Tarow, kenyataanya sama sekali tidak ada orang yang menyebutkannya. Mereka mungkin bahkan tidak tahu Tarow itu ada.

 

“Aku juga ingin berbicara denganmu tentang Tarow.”

 

“Mn!”

 

Aku melakukannya! Benar-benar melakukannya!
Oniisama! Aku telah mencoba sebaik-baiknya!
Dan kelihatannya Aoi-chan mau jadi temanku!

 

Kelasnya dimulai jadi kami pun berhenti berbicara untuk sementara waktu, tapi pas saat kelas berakhir, kami mulai berbicara lagi.

 

Tentang bagaimana kakeknya Aoi-chan tinggal di pedesaan, di daerah temapat “Tarow the Taro” berasal.
Tentang bagaimana dia membeli gantungan kuncinya tahun lalu ketika dia pergi ke sana untuk main.
Tentang bagaimana barang-barang “Tarow the Taro” hanya dijual di kampung halamannya.

 

“Begitu ya~ Aku juga mencari-cari di internet, tapi tidak ada orang yang menjual barang-barang Tarow di manapu, dan aku sangat penasaran di mana kamu mendapatkan gantungan kuncimu, kau tahu? Aku bahkan mengira kalau mungkin kamu membuatnya sendiri.”

 

“Ahaha, dia tidak begitu terkenal jadi kupikir mereka tidak akan menjualnya di internet. Tidak ada sebegitu banyak variasi dalam barang-barang mengenai Tarow, dan kupikir sepertinya mereka tidak begitu laku.”

 

“Benarkah?”

 

“Iya. Dari tempat asalnya, mereka menjual kantong Tarow dengan gambarnya di dalam, dan di toko-toko mereka kadang-kadang menampilkan karton bergambar Tarow, tapi ketika aku ke sana, tidak ada yang membeli barang-barang Tarow selain aku.”

 

“Astaga~”

 

Jadi Tarow memang benar-benar anak yang kasihan…
Jadi sama sepertiku, Aoi-chan juga menjadi fansnya karena dia merasa kasihan dengan Tarow.
Bisakah Tarow mendapat fans lain selain yang karena kasihan?
“Kalau dilihat dengan seksama, dia punya wajah yang cukup menarik, ya~ Meskipun sekilas kelihatannya datar~”

 

“Mn…”

 

Dia sebagian besar berwarna coklat muda, jadi dia memang benar-benar kelihatan datar.

 

Setelah itu, kami terus berbicara dengan gembira sampai les ke dua dimulai.
Menyenangkan sekali.
Kami berjanji untuk duduk bersama minggu depan juga. Aku senang sekali.

 

 

Ketika aku pulang ke rumah, aku memberi tahu Oniisama dengan segera.

 

“Aku melakukannya, Oniisama. Aku berteman dengan Aoi-chan!”

 

“Aoi-chan? Gadis yang katanya ingin kamu jadikan teman, terakhir kali?”

 

“Iya. Hari ini kami mengobrol tentang Tarow.”

 

“Aahh, yuru-chara kecil yang aneh… dan kamu sukai…”

 

Pada hari yang lain aku menunjukkan “Tarow the Taro” di internet pada Oniisama.
Oniisama waktu itu tidak yakin akan kesannya tentang dia.

 

“Oniisama, kamu masih belum mengerti pesona Tarow ???”

 

“Sepertinya begitu. Kurasa itu tidak akan pernah terjadi.”

 

“Ehhhhh?”

 

Oniisama, kenapa kamu tidak mengerti kelucuannya.
Tapi bukankah Oniisama sudah memberiku nasihat tentang Aoi-chan?
Sebagai perwujudan rasa terima kasihku, haruskah aku memasakkan makan malam untuknya lagi?
Oniisama, nantikan masakanku ya!

 

Aahh, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan!

 

 

 


SebelumDaftar Isi – Selanjutnya

2 Responses to “Chapter 31”

Read below or add a comment...

  1. lein says:

    Semangat terus minn

  2. Waleesa says:

    => Tolong ubah kata selain bahasa Indonesia ke ‘cetak miring’
    => An opening : bisa diarti’in peluang/celah.

    Boleh daftar jdi editor(editor bahasa. Bukan chapter). Pengalaman masih nol(0) jdi jgn mengharap lebih ^^

Leave A Comment...

*