Chapter 28

 

Akhir-akhir ini di kelas les IPA dan IPS ku, aku menemukan gadis ini yang menangkap mataku.
Dia adalah seorang gadis bertubuh kecil yang terlihat penurut, dan dia kadang-kadang duduk di sebelahku. Jadi, suatu hari aku melihat sebuah gantungan kunci di tasnya. Aku pun tak bisa melepaskan pandanganku.

 

Itu adalah gantungan kunci boneka “Tarow the Taro”!

 

“Tarow the Taro” adalah, yang seperti kau duga, karakter maskot yuruchara berbentuk talas.
Dia itu maskot yang diciptakan untuk sebuah kota penghasil talas, tapi walaupun dia sebuah yuruchara (karakter santai/toleran), konsep kualitas penampilannya benar-benar terlalu mencerminkan kelonggaran!
Dia terlihat persis seperti talas dengan mata, hidung, dan mulut yang ditempelkan. Dan yang lebih parah lagi, wajahnya terlihat menyedihkan. Lagian, alis matanya kan miring ke bawah.
Mungkin orangnya (maskot?) sendiri pun sadar betul akan muka dan popularitasnya yang menyedihkan, karena selama acara yuruchara, dia selalu berdiam diri di sudut agar tidak menghalangi para bintang acara.
Dia benar-benar cuma karakter tambahan.

 

Dan sedangkan untuk aku, sebenarnya aku sangat suka yuruchara kecil yang aneh ini!

 

Agak-agaknya, dia membuatmu bertanya-tanya apakah mereka tak bisa lebih berusaha keras untuknya
Di festival-festival, dia tertutupi oleh yuruchara terkenal, dan hanya punya sedikit kehadiran.
Tapi karena acaranya, dia tetap memakai sebuah dasi kecil agar tampak pantas, dan kamu pun akan merasakan suatu rasa melankolis yang ganjil.

 

Pertama kali aku melihatnya, aku berpikir, ‘Whoa, sudah pasti bukan yuruchara terkenal. Terlihat sangat biasa, dan wajahnya pun bahkan tidak manis.’ Tapi setelah melihatnya beberapa kali aku mulai merasa kasihan padanya, dan tak lama kemudian aku pun mulai berpikir kalau wajahnya yang dibuat dengan malas itu agak lucu juga.
Walaupun dia itu maskot yang diciptakan untuk menghidupkan kota tersebut, dia sama sekali tidak punya rasa percaya diri.
‘Tapi rasa malu dan penakut itu, aku juga sangat memahaminya. Aku juga memiliki seorang Tarow dalam diriku! Jika bukan aku yang mendukungnya, siapa lagi!’
Atau begitulah yang kupikirkan sementara insting keibuan muncul dan berkobar dalam diriku.

 

Dan itulah siapa Tarow the Taro. Serta gadis yang punya cenderamata Tarow sedang duduk tepat di sebelahku.
Aku ingin berteman dengannya!

 

Tidak sering kamu akan menemukan seorang anak perempuan yang suka dengan yuruchara yang begitu biasa dan tidak menyolok.
Aku ingin sekali berbicara sepuas hatiku tentang Tarow.
Atau sebaliknya, aku sama sekali tidak tahu mereka juga membuat cenderamata Tarow!

 

Akan tetapi, aku belum mendapatkan cara yang bagus untuk berteman dengan gadis itu.
Jika aku tiba-tiba mengatakan “Tolong jadi temanku.” aku akan terlihat mencurigakan.
Bagaimana kamu seharusnya memulai percakapan ya?
Di sekolah, selalu orang lain yang mendekatiku dulu, jadi aku tidak pernah melakukan langkah pertamanya.
Uwah~ aku benar-benar tak berguna deh.
Bagaimanapun, aku akan berbicara dengan dia secara kasual saja.
Betul! Pikirkan kembali pada keramahan Aizawa-kun. Pertama-tama adalah perkenalannya…

 

Akan tetapi meskipun aku sudah memutuskan untuk memanggilnya, dia sama sekali tidak menunjukkan gelagat akan melihat ke arahku.
Seolah-olah ada semacam dinding di sekitarnya.
Tidak, tidak, di sinilah kamu harus menunjukkan keberanian!

 

“Umm, tasmu…”

 

“Eh-!?”

 

Gadis itu berbalik, sambil melihatku dengan tegang.

 

“Ah-, tasnya menghalangimu, ya. Maaf, aku akan memindahkannya sekarang juga!”

 

“Tidak, ummm…”

 

“Aku benar-benar minta maaf!”

 

Dia dengan tergesa-gesa memindahkan tas dengan gantungan kuncinya ke sisi lain mejanya, dan sementara itu juga menjauhkan tubuhnya sedikit dari aku.
Bukankah dia terlihat agak takut denganku?
Kali ini dia benar-benar telah mendirikan dinding penolakan di sekitarnya, jadi aku pun tak bisa mengumpulkan keberanian berbicara dengannya lagi.
Ehhhh~!? Kenapa!?

 

Tapi aku tak akan menyerah.
Setiap kali, aku duduk di sampingnya lagi, atau kadang-kadang bahkan lebih dekat, dan aku berusaha mati-matian untuk memberikan aura yang menunjukkan ‘Aku sama sekali tidak menakutkan, kau tahu~?’, dan kapanpun mata kami bertemu, kuberikan senyuman terbaikku.
Mungkin dia menyadari kalau aku betul-betul sedang menatapnya, tapi dia hampir tak pernah melihatku dengan sendirinya.

 

Bukankah aku sepertinya, sudah benar-benar seperti Kaburagi si Penguntit sekarang?

 

 

 

“Hmmm…”

 

Aku sedang menatap diriku sendiri di cermin.

 

“Hmmmmm…”

 

“Reika, apa yang kamu lakukan, berdiri di depan cermin sambil mengerang-erang?”

 

Ketika aku sedang berpikir sendiri di ruang keluarga, Oniisama datang.
Timing yang sempurna. Aku akan mencoba bertanya pada Oniisama.

 

“Oniisama, apakah wajahku terlihat menakutkan?”

 

“Hah?”

 

Wajahku tidak terlihat begitu kejam, bukan?
Walaupun memang benar kalau aku tidak punya wajah orang yang mudah didekati.
Yah, kurasa aku memiliki wajah orang yang tidak begitu mudah dimanfaatkan.

 

Karena selera Okaasama, rambutku dikeriting dengan rapi, dan semua yang kukenakan adalah baju bermerek.
Karena semuanya adalah baju anak-anak, saat aku tumbuh besar baju-baju ini pun semuanya akan sia-sia, tapi yah, sebagai nona muda keluarga Kisshouin, mungkin hanya memakai baju fashion biasa saja tidak akan cukup.

 

Karena aku punya begitu banyak baju, mungkin aku tidak pernah memakai baju yang sama ke bimbel sebelumnya.

 

Jadi memang karena itu ya?
Kurangnya bukaan bisa jadi adalah alasan orang-orang takut denganku.
Atau sebaliknya, bukankah ini karena intensitasku?
Akan lebih baik kalau wajahku tidak terlihat sekejam ini, bukan…
Mataku tidak terlihat tajam, kan?

 

“Siapa yang bilang wajahmu menakutkan?”

 

“Tidak, bukan itu yang terjadi.”

 

Aku melihat ke wajah Oniisama.
Mungkin diri Oniisama yang terpancar ke luar atau semacamnya, karena meskipun kelihatannya tidak terlalu manis, kamu bisa merasakan suatu kebaikan dari wajahnya.
Kapanpun aku berbicara dengan Oniisama, sudut mulutnya akan naik sedikit, dan kupikir itulah sebagian kenapa dia mudah bergaul.

 

“Jadi bukan hanya matanya saja ya. Mulut juga penting.”

 

Aku melihat ke cermin dan tersenyum.
Ya. Terlihat mencurigakan.

 

“Kupikir wajahmu tidak terlihat terlalu menakutkan. Walaupun kamu yang di sini berdiri mengubah-ubah ekspresi di depan cermin memang menakutkan. Memangnya kenapa kamu tiba-tiba jadi khawatir?”

 

“…Ada seorang gadis yang ingin kujadikan teman, tapi aku mendapat perasaan kalau dia takut padaku.”

 

“Hmm~ Apakah gadis ini dari sekolah?”

 

“Tidak, dia dari bimbel. Aku telah mencoba terlihat ramah, tapi semakin kucoba, semakin ketakutan dia. Kenapa ya? Apakah karena penampilanku menakutkan?”

 

“Gadis seperti apa dia? Tergantung pada seperti apa dia, pendekatanmu juga harus berubah, bukan?”

 

Tipe apa?

 

“Penurut, dan agak ‘kecil’. Tapi manis seperti hewan kecil.”

 

“Cukup berbeda dengan gadis-gadis yang biasanya di sekitarmu, bukan. Dalam kasus begitu, jika kamu terlalu tegas, memang benar kalau dia mungkin akan ketakutan, ya. Bagaimana kalau kamu coba pikirkan kamu berada di posisinya?”

 

Jika aku berada di posisinya?
Gadis itu tidak terlihat polos, tapi dia tampaknya tipe penurut, jadi dia mungkin tidak ingin jadi pusat perhatian kelas.
Aku mendapat perasaan kalau aku yang lama akan dapat berteman dengannya tanpa masalah.
Aku bukan tipe penurut, tapi aku punya teman yang seperti dia di sekitarku.
Dalam kasus itu, akankah aku yang lama berteman dengan gadis seperti Kisshouin Reika…?
…Tidak mungkin, ya.
Maksudku, aku ragu kalau percakapan kami akan nyambung, dan mungkin akan lebih repot lagi kalau seorang ojousama seperti Reika marah denganku.
Aahh, kurasa memang benar kalau aku tidak mau berteman dengannya tapi Reika terus mendekat dengan paksa, rasanya akan agak menakutkan.
Persis seperti aku yang ketakutan ketika Kaburagi si Penguntit mendekatiku untuk menjadikan aku sebagai mata-mata, ya?
Tapi aku kan tidak pernah menyergapnya, bukan~

 

“Jika aku memotong rambutku dan memakai baju lebih murah, apakah dia akan lebih menurunkan kewaspadaannya?”

 

“Rasanya orang tua kita tidak akan pernah mengizinkanmu melakukan itu.”

 

Yah~
Okaasama ingin aku untuk berperilaku seperti seorang ojousama dari keluarga baik-baik.
Aku yakin dia punya pikiran sendiri tentang seperti apa aku seharusnya.
Tapi seleranya…seperti rambut yang dikeriting ini, seleranya cukup klasik, ya?
Mungkinkah dia ingin aku jadi seperti Rococo Queen?

 

“Kalau begitu apa yang harus kulakukan?”

 

“Mari kita lihat. Kurasa memang tidak ada cara lain lagi selain dengan rajin membuatnya mengerti dirimu, ya? Karena kamu seorang gadis jujur dan baik.”

 

Oniisama!!

 

“Aku mengerti! Aku akan berusaha sebaik-baiknya!”

 

“Ya. Kamu itu benar-benar jujur,yah.”

 

Untuk pertama kali setelah sekian lama, Oniisama mengusap kepalaku.
Moodku pun naik dengan cepat.

 

Aku sudah tidak sabar lagi untuk berbicara dengannya tentang Tarow the Taro, tapi seperti yang dikatakan Oniisama, mungkin akan lebih baik jika aku pelan-pelan mendekati dia.
Aku akan belajar dari contoh buruk Kaburagi, dan mencoba sebaik-baiknya!

 

 

TL/N :

  • yuruchara = di Jepang, setiap prefektur punya maskot atau karakternya sendiri.

 

 

 

 


SebelumDaftar IsiSelanjutnya

One Response to “Chapter 28”

Read below or add a comment...

  1. BlackElite says:

    Terimakasih
    Aku menunggu chapter selanjutnya……

Leave A Comment...

*