Chapter 24

 

Seorang ojousama punya lingkaran kenalan para ojousama-nya sendiri.

 

Seorang ojousama harus menghadiri banyak les, termasuk juga aku. Dan les-les tersebut seringkali mengadakan pameran atau resital.
Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak bisa membayangkan kalau ada orang selain keluarga yang mau menonton sekelompok anak menari atau tampil. Tapi hanya dengan keluarga saja, tempat-tempat duduknya tidak akan penuh dan kelihatannya jadi tidak bagus. Oleh karena itu, orang-orang di kalangan atas sering pergi ke acara-acara mereka satu sama lain, yang juga sekaligus bermanfaat untuk bersosialisasi.
Dan begitulah, aku pergi ke sebuah resital biola hari ini karena itu.

 

Okaasama datang bersamaku ke resital, dan rupanya dia masih belum menyerahkan mimpinya untuk membuatku belajar biola, sebab dia terus menanyakan hal-hal semacam ‘Bagaimana kalau kamu menggunakan kesempatan ini untuk mulai belajar?’ kepadaku.
Tidak deh, terima kasih.
Aku pernah menghadiri kelas percobaan satu kali atas desakan kuat ibuku, tapi jariku yang menahan senarnya sakit sekali. Gesekannya kuat sekali sehingga rasanya seakan-akan sidik jariku akan terbakar hilang. Itulah hari di mana aku memutuskan kalau aku sedikit terlalu lembut untuk memainkan biola.
Sama seperti sebelumnya, berkat rekomendasi ibuku, aku juga mencoba memainkan seruling, tapi sampai sekarang aku masih bermimpi buruk tentang kehidupan lamaku ketika aku cuma bisa meniupkan suara ‘puupiiii~‘ yang konyol dan menyedihkan dari awal sampai akhir di sebuah resital rekorder dan menghancurkan simfoninya untuk semua orang. Oleh karena itu, aku jadi sedikit trauma akan alat musik tiup sekarang.
Ketika semua orang kembali ke kelas setelahnya dan meneriakkan “Siapa orang sialan yang membuat suara itu tadi!?” dan mulai mencari-cari tersangkanya, aku benar-benar ketakutan.
Aku bergabung dan juga membuat wajah ‘Ehh~ aku juga tidak tahu~’, tapi di dalam, jantungku berdebar dengan keras. Satu-satunya alasan kenapa aku dapat menghindari maut hari itu adalah karena anak-anak yang duduk di sebelahku tutp mulut.
Jadi kalau sudah berbicara tentang musik, tolong jangan paksa aku lagi, dan biarkanlah aku tetap bersama pianoku.

 

 

Ketika resitalnya berakhir, kami pun menuju ke lobi untuk menyerahkan buket bunga.
Sambil menunggu, aku melihat ke sekeliling dan melihat seseorang yang sama sekali tak kuduga.

 

“Akizawa-kun?”

 

Sama seperti kami, Akizawa-kun juga sedang berdiri di sana dengan sebuah bulet di tangan.
Aku memberitahu Okaasama kalau aku melihat seorang teman di sini, jadi aku pun pergi meninggalkannya dan menuju ke Akizawa-kun.

 

“Akizawa-kun? Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini?”

 

“Eh-, Kisshouin-san!?”

 

Saat dia membalikkan badannya, Akizawa-kun juga terkejut melihatku.

 

“Kenapa kamu ada di sini, Kisshouin-san? Umm, hari ini teman masa kecilku tampil di resital, jadi aku datang menonton, tapi bagaimana denganmu?”

 

“Hampir sama denganmu. Seorang teman juga tampil tadi.”

 

Saat kami sedang berbicara, Okaasama, dan seseorang yang kelihatannya seperti okaasama nya Akizawa-kun datang mendekat.

 

“Reika-san, siapakah tuan ini?”

 

“Ah-, Okaasama. Ini Akizawa-kun. Dia satu tingkat denganku di Suiran, dan kami juga menghadiri bimbel yang sama, kau tahu.”

 

“Senang bertemu denganmu. Aku Akizawa Takumi.”

 

Ketika Okaasama tahu bahwa Akizawa-kun murid Suiran, dia pun tersenyum senang.
Setelah itu, aku juga menyapa okaasama nya Akizawa-kun.
Sementara ibu kami saling bertukar sapa, kami pun kembali ke percakapan kami sebelumnya.

 

“Dengan ‘teman masa kecil’, apakah maksudmu orang yang memberimu coklat Valentine kemarin?”

 

“Ah, itu dia orangnya. Kamu ingat juga ya. Dia tinggal di lingkungan yang sama denganku, jadi keluarga kami sudah sangat dekat sejak kami kecil. Dia di tingkat yang sama dengan kita, tapi dia sudah seperti adik kecil bagiku.”

 

“Seorang adik kecil?”

 

“Iya, sejak kami kecil dia selalu mengikutiku kesana kemari, dan kami juga satu TK. Ketika kami harus pergi ke sekolah yang berbeda, dia menangis sekeras-kerasnya. Hari itu benar-benar mengerikan, kau tahu. Untuk hari ini juga, dia bilang kepadaku kalau aku pokoknya harus datang.”

 

Akizawa-kun, kamu…

 

Pas pada saat itu, para penampil dan keluarga mereka mulai memasuki lobi.

 

“Takumi!”

 

Seorang gadis cantik dengan rambut hitam panjang gaya Jepang memanggil namanya sambil berlari ke sini.

 

“Ahh, Sakurako, kerja bagus! Penampilanmu tadi hebat sekali.”

 

Akizawa-kun menyambutnya dengan senyum.
Ketika gadis itu mendengar pujiannya, dia pun tersenyum bahagia dengan pipi kemerahan, tapi tepat saat dia melihatku berdiri di sampingnya, ekspresinya berubah bingung.

 

“Takumi, siapa orang ini?”

 

“Ahh, ini Kisshouin-san. Dia termasuk kelompok elit di Suiran, dan kami satu kelas di bimbel. Walaupun kelas kami di sekolah berbeda sih.”

 

‘Benar kan?’ dia bertanya padaku dengan senyum polos.
Melihat itu, Teman Masa Kecil-chan mulai tampak cemberut.

 

“Dan ini teman masa kecil yang tadi kusebutkan, Fukioka Sakurako.”

 

“Aku Kisshouin Reika. Senang bertemu denganmu.”

 

“…Fukioka Sakurako.”

 

Wajahnya jelas-jelas menunjukkan kalau dia tidak senang melihatku.
Aahh, kalau begini berarti dugaanku benar.

 

“Takumi, tidak mungkin kamu datang bersamanya, kan?”

 

“Enggak. Rupanya, teman Kisshouin-san juga tampil di resital ini. Kami kebetulan bertemu tadi. Benar kan, Kisshouin-san?”

 

Sekali lagi, Akizawa-kun tersenyum padaku, yang diikuti oleh ekspresi Fukioka-san yang semakin parah.
Ah-, dia sudah mulai melotot.

 

“Aku tidak pernah mendengart kalau kamu punya teman perempuan, Takumi. Meskipun ketika kamu bercerita tentang temanmu, hanya nama laki-laki yang muncul…”

 

“Benarkah? Yah, kami pada dasarnya cuma berbicara di bimbel, jadi,”

 

“Apakah kalian… dekat?”

 

“Ehh~ tidak tahu juga. Kami pastinya tidak saling membenci, benar kan?”

 

“Eh-? I-, Iya. Itu benar.”

 

Fukioka-san memandang Akizawa-kun dengan sedih.

 

 

Ya Tuhan.
Aku telah meremehkan orang ini. Meskipun aku pikir dia hanyalah anak SD normal yang jomblo seperti aku…
Tak disangka, dia punya yang namanya kartu andalan dari semua cerita-cerita cinta klise, ‘cinta panas dengan seorang teman masa kecil’!!
Akizawa-kun yang kupikir adalah kawanku dalam tanah perjombloan sebenarnya sudah ada di alam yang berbeda denganku dari awal.
Seharusnya aku sudah menyadarinya saat dia menyebutkan coklat tahunan dari teman masa kecilnya. Coklat-coklat itu bukanlah coklat kesopanan, bukan juga coklat persahabatan, melainkan coklat yang asli buat menyatakan cintanya.
Sampai-sampai aku mengelompokkan diriku dengan orang yang punya kartu hubungan cinta yang begitu kuat. Rasanya aku jadi ingin memohon maaf kepada Akizawa-kun dengan sliding dogeza sekarang.

 

Kelihatannya Akizawa-kun sama sekali tidak tahu kenapa Fukioka-san marah, dan dengan santainya bertanya “Ada apa?”.
Klise. Benar-benar klise. Klise “teman masa kecil yang tidak peka”.
Akizawa-kun, sekarang kamu rasanya sudah sangat jauh dariku…

 

Bagi Fukioka-san, Akizawa-kun adalah teman masa kecil yang dia cintai, dan yang selalu berada di sampingnya, jadi kurasa itu membuatku jadi karakter orang jahat yang tiba-tiba muncul.
Walaupun protagonis Kimidol bahkan belum muncul, kenapa aku juga malah harus jadi stalking horse-nya di tempat acak begini?
Cinta segitiga hina bahkan sewaktu SD? Tidak terima kasih.

 

Teman ojousama yang mengundangku hari ini muncul di lobi, jadi aku pun dengan penuh rasa terima kasih menggunakan mereka untuk mundur.

 

“Okaasama, Emiri-sama sudah di sini. Kita harus memberikan bunganya.”

 

“Astaga, betul. Kalau begitu, Akizawa-sama, aku menantikan pertemuan kita selanjutnya. Kalau begitu, permisi. Kami pergi dulu.”

 

“Permisi, dan gokigen’yoh, Akizawa-kun, Fukioka-san.”

 

“Sampai jumpa di bimbel, Kisshouin-san.”

 

“…Gokigen’yoh.”

 

Aku bisa merasakan pandangan Fukioka-san yang menusuk punggungku dengan tajam.

 

 

 

 

Ketika aku meninggalkan tempatnya kemudian, rupanya di luar sedang turun salju.
Tak heran aku merasa sangat dingin.

 

 

TL/N :

  • Karakter stalking horse adalah rival dalam cerita romance yang hanya digunakan untuk mendorong para karakter utama ke dalam sebuah hubungan. Atau ke dalam hubungan yang lebih dalam lagi. Pada dasarnya sama sekali tidak punya kesempatan mendapatkan karakter utamanya. Contohnya, (spoiler alert) karakter werewolf itu dalam cerita Twilight. Mulai sekarang, aku akan menerjemahkannya menjadi rival saja.
  • sliding dogeza

 

 


SebelumDaftar IsiSelanjutnya

Leave A Comment...

*