Chapter 20

 

Aira-sama mengirim pesan padaku hari Sabtu.
Kami berbincang via email, dan untuk kesimpulannya,

Yurie-sama marah besar karena Kaburagi telah bertindak terlalu jauh, mengawasi setiap tindak tanduknya, dan bahkan menggunakan murid-murid SMP untuk menghentikannya berbicara dengan murid laki-laki.
Yurie-sama juga marah karena meskipun anak laki-laki yang menyatakan cinta pada Yurie-sama berasal dari sekolah lain, Kaburagi melakukan aksi kekerasan seperti menendangnya.
Ketika Kaburagi mengerti dengan jelas kenapa Yurie-sama marah, dan sudah bertobat, baru pada saat itulah dia akan memaafkan Kaburagi.
Saat hal itu terjadi, dia harus bersumpah akan menghormati keinginan Yurie-sama, dan akan mengurangi kegiatan pengawasan dan ikut campurnya yang tidak masuk akal.
Dan juga, inilah berita utamanya.

Dia harus bersumpah tidak akan melibatkan orang lain lagi demi Yurie-sama.
Wajarnya, ini pun juga termasuk aku.

Sebenarnya, Aira-sama memberitahu Yurie-sama tentang Kaburagi yang memaksaku menjadi budaknya, dan Yurie-sama rupanya pun meminta maaf padaku.
Seperti yang diharapkan dari Aira-sama.

 

Bersama dengan laporan kegiatan mata-mataku, aku melangkah ke sekolah dengan rasa penuh kemenangan.
Tadinya aku dengan santai berpikir kalau aku akan pergi ke salon saat jam istirahat untuk menyerahkan laporanku padanya, akan tetapi sayangnya aku telah lupa betapa sedikitnya kontrol diri yang dimilikinya.

Sesaat setelah aku sampai ke sekolah, Kaburagi langsung mendobrak masuk ke kelasku.
Teman-teman sekelasku pun jadi diam, dan aura kecemburuan dan iri hati para gadis memburuk.
Maksudku, lagipula, Kaburagi Masaya yang pada dasarnya tidak menghiraukan para gadis telah sekarang jauh-jauh datang ke kelas lain untuk menemui seorang murid perempuan (aku).

Apa-apaan yang telah dia lakukan…

“Oi, bagaimana?”

Tanpa sapaan apapun, kau langsung menanyakan itu?

“Selamat pagi, Kaburagi-sama. Tidak pantas berbicara di sini, jadi mungkin kita seharusnya berbicara saat makan siang saja.”

Agar semua orang tidak dapat merasakan gejolak batinku, aku menempelkan muka pura-pura tenangku.
Kumohon, tolong jangan katakan apapun yang tidak perlu di depan mereka.
Si penguntit ini adalah seorang idiot jadi aku sama sekali tidak tahu hal berbahaya apa yang mungkin akan dikatakannya.
Aah, apa yang akan kulakukan kalau seisi kelas tahu aku jadi seorang penggali informasi?
Posisiku akan terjun bebas ke bawah!

“Tidak, katakan sekarang. Aku gak mau nunggu.”

Tunggu dooong sialan kauuu~

Inilah dia kekurangan kontrol diri yang membuat Yurie-sama marah, cepat sadar dong.
Kalau begini terus kamu tidak akan dimaafkan tidak peduli berapa lama kamu menunggu, kau tahu?

“Baiklah. Kalau begitu, ini bukan hal yang bisa kita diskusikan di sini, jadi mari kita ganti lokasi.”

Bagaimanapun, aku harus pergi ke suatu tempat yang tidak ada orang. Kalau dia memanggilku ‘Penggali Informasi’ di sini, habislah aku.
Dan juga, tatapan dari semua orang terlalu menakutkan.

“Baiklah. Ikut aku.”

Arogan seperti biasanya, ya~
Pas saat kami melangkah keluar ruangan, aku bisa mendengar para gadis berteriak “Apa-apaan ituuu!?” di belakangku.
Kelihatannya hari-hari damaiku telah berakhir.
Dan juga, kepalaku jadi sakit…

 

“Sekarang, katakan hasilnya.”

Kami tidak punya waktu untuk ke salon, jadi kami cuma berbicara di sudut koridor.
Meskipun seharusnya tempat ini dipenuhi orang sekarang, dengan sebuah pelototan dari Emperor tempatnya langsung dikosongkan.
Walaupun aku sangat menyadari bahwa mereka sedang memerhatikan dari jauh.

“Mengerti.”

Aku mengeluarkan laporannya dari kantongku.
Untuk memulainya, akankah seseorang yang normal langsung meminta hasilnya di pagi hari meskipun aku seharusnya berbicara dengan Aira-sama nanti pada hari yang sama?
Apakah dia itu benar-benar seorang idiot yang tak punya otak, atau apakah dia mengharapkan aku untuk memprioritaskan perintahnya di atas segalanya?
Kalau ini terjadi karena alasan yang kedua, maka bertambahlah satu lagi alasanku untuk membenci orang ini, ya~

Kaburagi Si Penguntit membaca laporannya dengan intens.
…Kurasa inilah yang bisa kau sebut jujur dalam artian anak kecil, yaa~
(TL : I suppose you can call this honest in a sense, huhh~)
Kalau saja aku tidak terlibat dengan ini semua, aku akan melihat seorang anak SD yang sedang mengalami cinta pertamanya, dan memikirkan hal-hal lembut seperti ‘Betapa pahit manisnya~ Mendebarkan hati sekali~’, tapi sekarang setelah aku benar-benar terlibat, dia kelihatan persis seperti seorang penguntit sialan yang terus membuat masalah untuk aku saja.

“…Jadi kalau aku bertobat seperti yang dibilang di sini, dan aku bersumpah aku akan berhenti mengawasi Yurie, dia akan memaafkanku, ya?”

“Kelihatannya begitulah.”

Kaburagi pun terdiam dalam pemikirannya.

“Jadi kapan saatnya?”

“Hah?”

Apa-apaan yang orang ini katakan.

“Seperti yang kubilang, ketika kamu bertobat…”

“Aku sudah bertobat. Benar-benar bertobat. Dan aku bersumpah aku akan menghormati keputusan Yurie. Nah, kan persis seperti permintaan Yurie. Jadi hari ini? Besok? Atau dia akan memaafkanku sekarang juga?”

Uehh…

Orang yang sangat mengganggu.
Memangnya Emperor itu anak yang begini mengganggu sewaktu dia muda, ya?
Karena dia selalu memiliki ekspresi dingin dan bosan, semua orang membuat keributan dan mengatakan hal-hal seperti ‘Dia sangat keren dan tampan ya!’ dan aku juga tadinya berpikir kalau dia kelihatannya cukup dingin untuk ukuran anak SD, tapi ‘keren’ apaan? Dia cuma seorang idiot.
Semua orang telah dibodohi.

“Masaya.”

Dan tepat pada titik ini, Enjou Shuusuke pun datang.

“Apa yang kamu lakukan di tempat seperti ini? Dan bersama Kisshouin-san lagi.”

Aaah, gangguannya telah berlipat ganda.

“Oohh, Shuusuke! Lihat ini! Si mata-mata telah melakukan kerja yang bagus!”

“Eh-, Kisshouin-san, kamu sudah pergi bertanya ke Aira? Kamu bekerjanya cepat, ya~”

Enjou melihat laporan yang sedang dipegang Kaburagi dari samping.

“Hm~ begitu ya. Yah, bukankah ini persis seperti yang sudah kita tebak?”

“Aku juga sudah mengatakan ini tadi, tapi aku sudah bertobat, dan aku akan menerima syarat dari Yurie. Jadi sudah waktunya Yurie memaafkanku, kan?”

Dia itu benar-benar orang idiot yang berpikiran simpel, ya~

“Kamu itu benar-benar seorang idiot, Masaya~”

Uwa-, untuk sesaat tadi kupikir pikiranku benar-benar disampaikan secara vokal.

“Shuusuke, sialan kau, kamu mengajak berkelahi ya?”

“Hei, bertobat lho, bertobat. Sifat cepat marah kamu itulah alasan lain Yurie marah, kau tahu?”

“Tidak ada yang seperti itu di laporannya!”

“Bukankah mereka mengajari kita di kelas Bahasa Jepang untuk membaca apa yang tersirat? Lihat, di sini disebutkan kalau kau menendang seorang anak SMP sampai dia terbang. Yurie marah karena tindakan yang disebabkan sifat cepat marahmu itu. Mengerti sekarang?”

Kaburagi pun terdiam.

“Bagaimanapun, dia tidak akan percaya kalau kamu sudah bertobat hanya dari kata-katamu saja. Kamu harus menunjukkannya di dalam sikapmu.”

“Kalau begitu apa-apaan yang harus kulakukan.”

“Apa ya~ Kisshouin-san, apakah kamu punya ide yang bagus?”

“Eh-?”

Kenapa aku?
Aku sudah melakukan apa yang disuruh dan pergi mencari tahu apa yang dipikirkan Yurie-sama dalam masalah ini, jadi bukankah aku seharusnya sudah bebas tugas?
Temanmu yang dapat dipercaya sudah datang, jadi kamu seharusnya tidak butuh aku lagi.
Atau sebaliknya, aku yang tidak mau berurusan dengan kamu.

Dan dengan timing yang tepat, bel masuk kelas pun berbunyi.

“Astaga. Aku harus masuk kelas. Sudah ya.”

Cepat, cepat.

“Tunggu, Mata-mata.”

Kaburagi menyuruhku untuk berhenti.

“Kamu juga harus kasih ide. Itulah tugasmu sampai jam istirahat makan siang.”

HAHHHHHHHH???

Memangnya kenapa aku harus melakukan itu!?
Dan juga merencanakan itu bukan tugas seorang mata-mata, bukan?
Tolong biarkan aku istirahat dong…

Enjou memberiku senyuman minta maaf.
Uh, tidak, kamu yang tadi mengubah arah pembicaraan ke aku, bukan?
Jujur saja, ini benar-benar yang terburuk…

 

Pas saat aku masuk ke kelas, guru wali kelas juga masuk, sehingga untuk sekarang aku berhasil menghindari pertanyaan teman-teman sekelasku.
Meskipun sebenarnya aku hanya menundanya untuk sementara sampai pelajaran satu jam ini berakhir.
Hubunganku dengan Kaburagi… Kebohongan apa yang cocok ya?
Bahkan jika aku mati, aku tidak akan mengakui kalau aku orang yang menggali informasi untuknya.
Bagaimana kalau aku katakan sesuatu yang normal seperti “Ada hal kecil yang dia percayakan kepadaku.”? Yah, walaupun aku tidak akan tahu mau menjawab apa kalau mereka bertanya apa hal kecil itu.
Aahh, minggu ini dimulai dengan hal-hal yang sangat tidak beruntung.

 

 

 


SebelumDaftar IsiSelanjutnya

Leave A Comment...

*