Chapter 15

 

Seperti biasa, musim gugur penuh dengan Pertemuan Atletik dan Presentasi Pembelajaran. Emperor yang merupakan pelari terakhir untuk lari estafet, berhasil membuat kelasnya yang ada di posisi terakhir menjadi juara 1, jadi suasana sangat ribut dengan pekikan para anak perempuan.
(TL : Autumn was busy as usual with the Athletics Meet and the Learning Presentation, you see. Emperor who was the anchor for the baton relay, managed the shocking achievement of pulling the class from last place to 1st place, so it’s been really noisy with the squealing of the girls.)

“Kelasmu hampir saja menang ya, Akizawa-kun.”

Kelasnya Akizawa-kun tadinya sudah berada di posisi pertama sebelum Emperor melampaui mereka.
Apalagi, pelari terakhirnya adalah Akizawa-kun.
(TL : What’s more, Akizawa-kun was the anchor. Sedikit memakai istilah sendiri untuk terjemahannya ‘anchor’)

“Kami berlomba dengan Kaburagi-kun jadi hal ini sudah bisa diduga. Meskipun mungkin saja hasilnya akan berbeda jika Enjou-kun tadi ikut.”

Sebenarnya, Akizawa-kun dan Enjou berada di kelas yang sama.
Akan tetapi, kali ini Enjou melukai kakinya atau semacamnya sebelum Pertemuan Atletik, jadi dia tidak bisa ikut lari estafet maupun lomba-lomba lainnya.

“Tapi kamu kan pelari terakhir, jadi kamu pasti larinya cepat juga, kan. Seingatku, kamu juga ikut tahun lalu, bukan?”

“Aku cuma ditunjuk sebagai pelari terakhir pas saat lombanya dimulai, berkat luka Enjou-kun. Tapi berlari itu menyenangkan. Ketika kita masuk SMP, aku ingin bergabung dengan klub lari.”
(TL : klub lari di sini terjemahan dari track and field club. Apakah ada saran terjemahan yang lain?)

“Oh, begitu ya.”

Aku belum memikirkan sampai SMP.
Untuk memulainya, kurasa tidak ada hal yang ingin sekali kulakukan. Mungkin kalau bisa, aku ingin makan banyak makanan manis?
Uu-… aku sedang berbicara tentang diriku sendiri di sini, tapi kedengarannya memang sangat buruk…

“Kamu ikut lomba melempar bola, bukan, Kisshouin-san?”

“Iya. Aku juara satu.”

Karena melempar bola adalah sesuatu yang bisa dia ikuti bahkan dengan kaki terluka sekalipun, Enjou pun ikut lomba ini. Walaupun, dengan dia di sana, gadis-gadis yang sekelas dengannya lebih tertarik untuk mendekatinya daripada melemparkan bola, dan kompetisi yang sepenuhnya berbeda pun dimulai. Karena itulah, kelas Akizawa-kun jadi benar-benar parah.
Memberikan semua itu pandangan sekilas, aku terus-menerus melemparkan bola ke dalam jaring dengan rajin, dan berubah menjadi sebuah mesin pelempar bola.
Karena aku tidak begitu bagus dalam olahraga aku tidak akan bisa membantu dalam perlombaan lainnya, jadi aku setidaknya ingin mencoba y7ang terbaik dalam melempar bola.
Aku sudah lebih dari puas dengan meraih juara satu dalam melempar bola.

“Untuk beberapa saat setelah Pertemuan Atletik, semua gadis-gadis ini terus mendobrak masuk ke kelas Kaburagi-kun untuk melihat dia, bukan? Kegaduhannya cukup intens, ya? Meskipun tampaknya Kaburagi-kun menjadi marah pada akhirnya.”

“Memang.”

Tapi kegaduhan itu kan memang adalah kejadian tahunan.
Gadis-gadis selalu menjadi gempar di sekitar Kaburagi Masaya, tapi sehabis acara-acara seperti pertemuan atletik, ukurannya naik ke level yang betul-betul berbeda.
Dan Kaburagi juga selalu marah besar setiap tahunnya, jadi kupikir seharusnya mereka sudah belajar dari kejadian ini, tapi tampaknya seorang anak gadis yang jatuh cinta tidak bisa dihentikan lagi bagaimanapun caranya.

“Kegaduhan setiap Hari Valentine juga adalah sesuatu yang perlu dilihat, bukan.”
(TL : The uproar on each Valentine’s Day is also a sight to see, isn’t it.)

“Iya, yang itu juga cukup gila! Hari itu bahkan ada barisan gadis-gadis berdiri di koridor menunggu untuk memberinya coklat, dan semuanya berakhir jadi gunungan ini di mejanya, kau tahu? Wow, benar-benar gila~ Seseorang sepertiku hanya dapat coklat dari Ibu, Oneechan dan teman masa kecilku.”

“Aku mengerti. Aku juga, cuma memberi coklat ke Otousama dan Oniisama.”

Mulai dua tahun lalu, aku memberi coklat buatan sendiri kepada Otousama dan Oniisama..
Tahun ini Oniisama mencoba untuk sopan dan memberitahuku “Kamu pasti sulit membuatnya sendiri, jadi cukup belikan saja aku coklat, oke?” tapi bagaimana mungkin segala sesuatu itu terlalu sulit atau terlalu makan waktu untuk Oniisama-ku tersayang!
Dan terlebih lagi, tahun ini ada ujian yang sangat penting untuk masuk SMA, jadi aku akan mengisi semua doaku untuk keberhasilan Oniisama ke dalam coklatku, bersama-sama dengan rasa sayangku untuknya.
Dan Oniisama juga bilang coklatku enak, jadi aku sangat senang.And Oniisama seemed to find it delicious too, so I’m super pleased.
Karena dia terlihat bahagia akan coklatku, aku juga pasti akan berusaha yang terbaik untuk tahun depan.

“Oh? kamu tidak memberikan coklat untuk Kaburagi-kun, Kisshouin-san?”

“Eh-? Untuk apa?”

Apa-apaan itu? Ide yang sangat mengganggu.

“Tidak, maksudku, kupikir kamu pasti juga jatuh cinta dengannya.”

“Tentu saja tidak.”

Aku tak sengaja menolak mentah-mentah.
Ini bukan candaan. Memangnya siapa yang mau mengejar percintaan berbahaya begitu.

“Begitu ya. Ah-, apakah mungkin Enjou-kun?”

“Itu juga tidak.”

Um, serius deh. Kenapa hanya dua orang itu yang jadi pilihannya?
Untuk memulainya, aku tidak suka orang-orang populer.
Mereka memang keren kalau dilihat secara objektif, tapi kalau mereka sangat populer akan ada terlalu banyak saingan, dan akan jadi menakutkan.

Mm~mm… Tapi ‘percintaan’, ya…?

Kalau dipikir-pikir, aku belum pernah naksir siapapun di dunia ini. Mungkin memang masih terlalu cepat untukku.
Di kehidupan lamaku, cinta pertamaku adalah sepupuku yang lebih tua, bukan.

Geh-! Kalau begitu bukankah aku persis seperti Ririna?
Tapi kupikir aku bukanlah anak yang begitu menyusahkan…

Kalau tidak salah, kami dulu pergi menaikkan layang-layang saat tahun baru dan dia mau bermain denganku, jadi aku pun menyukainya karena dia baik kepadaku.
Fakta kalau dia tidak kasar seperti para anak laki-laki seusiaku juga banyak menambah poinnya.

Di kehidupan lamaku, ketika aku SD para anak laki-laki yang setingkat denganku akan melakukan hal-hal seperti bermain hoki dengan sapu dan tidak sengaja mengenai para anak perempuan dengan bolanya, atau mengadakan lomba minum susu (yang masih tidak kupahami), atau mencuri permen yang kubawa saat wisata dan bahkan mengataiku “Karena kamu terus makan makanan seperti inilah makanya kamu gemuk, kau tahuuu!” sambil berjalan lewat, jadi mereka hanyalah sekumpulan orang idiot.
Apa maksudmu dengan ‘gemuk’, bocah-bocah ingusan bodoh! Ukuranku saat itu masih belum ‘gemuk’, masih cuma ‘montok’!
Aku hanya sedikit bulat.
Saat salju turun, aku membuat sebongkah bola salju dan melemparkannya ke arah orang-orang bodoh itu. Dan kemudian segera bersembunyi. Mereka sangat marah karena mereka tidak tahu siapa yang melakukannya. Mampus mereka.

Berkat itulah, meskipun tidak ada orang-orang idiot seperti itu di Suiran, berkat keberadaan Kaburagi dan Enjou di tingkatan kami, sayangnya kesan yang ditinggalkan para anak laki-laki lain di tingkatan kami sangat lemah.
Walaupun begitu kupikir saat kami lebih tua dan sifat individu mereka mulai merekah, pasti akan ada beberapa orang selain Kaburagi dan Enjou yang menjadi populer.
Bertahanlah sampai waktunya tiba, para anak laki-laki yang kurang beruntung.

Tapi tetap saja, anak laki-laki yang baik, ya?
Kalau tentang anak laki-laki yang baik, pada dasarnya yang aku tahu adalah Oniisama dan…

Aku menatap Akizawa-kun yang berada di sampingku.

“Eh-? Ada apa?”

Akizawa-kun juga anak yang baik, bukan.
Di bimbel dia akan berbicara denganku tanpa ragu-ragu, dan aku merasa aku bisa lebih menjadi diriku sendiri ketika di sekitarnya dibanding dengan ketika bersama dengan anak-anak perempuan di sekolah.
Dan kemarin ketika aku akan pulang, dia membukakan pintu untukku. Dia adalah seorang gentleman.
Wajahnya dan rambut warna cokelatnya mengingatkanku akan seekor tupai, jadi dia sangat imut.

“Um, Kisshouin-san? Apakah aku melakukan sesuatu?”

“Tidak, kok.”

Aku senyum untuk menutupinya.

Akizawa-kun adalah anak yang sangat baik, tapi untuk beberapa alasan aku hanya bisa melihatnya sebagai seorang ‘teman baik’.
‘Friendzone’. Kurasa aku sedikit bisa melihat masa depannya–

Tidak tahu akan hal-hal konyol yang sedang kupikirkan, Akizawa-kun mengeluarkan bahan belajarnya dengan sebuah senyum.
…Maaf, Akizawa-kun.

 

 

 

TL : Uhh..baru pulang dari pantai dan seluruh muka dan tangan terbakar matahari…Oleh karena itu, maaf ya kalau kualitas terjemahan lebih jelek dari biasanya. Akan kuedit lagi di kemudian hari..

 


SebelumDaftar IsiSelanjutnya

Leave A Comment...

*