Chapter 13

 

“Uu huu~”

Sambil membuka kotak yang ada di depanku, aku pun menyeringai.

Saat itu sedang tengah malam, dan aku sendirian di kamarku.

Terdapat sebuah kotak yang kusimpan di bagian paling dalam lemariku, dan kadang-kadang aku mengeluarkannya untuk kuperiksa isinya.

“Aku sudah menabung cukup banyak, bukan.”

Di dalam kotak adalah gulungan-gulungan uang.

Ya, saat ini aku sedang menabung uangku di rumah.

Di keluarga Kisshouin, jumlah uang jajan yang kudapatkan tidak bisa lagi terukur banyaknya oleh pengetahuan umumku.
(TL : In the Kisshouin family, the pocket money I get is an unthinkable amount going by my common sense.)
Setiap bulan (meskipun memang tak ada jumlah yang tetap), aku biasanya mendapat x0,000 Yen dari orang tuaku.
Itu bukanlah jumlah uang yang bisa kamu berikan kepada seorang anak SD, kan?
Jika kamu memberi seseorang uang sebanyak itu mulai dari masa kanak-kanak mereka, kurasa mereka tidak akan tumbuh dengan benar.

Tampaknya aku diberi uang untuk jaga-jaga jika sewaktu-waktu aku butuh uang ketika jalan-jalan dengan teman, tetapi untuk memulainya aku langsung pergi les sepulang sekolah dan pada dasarnya tidak pernah keluar untuk main-main, jadi tidak ada kesempatan untuk menghabiskan uangku.
Keluargaku sudah membelikan apa yang kubutuhkan untuk sekolah, dan kalau aku butuh sesuatu dari luar, supir sekaligus pembantu kami akan keluar membelinya.
Berkat itulah, aku tidak melakukan apa-apa selain menabungnya selama ini.
Aku menyimpan uang ini untuk jaga-jaga saat keluarga kami runtuh sewaktu-waktu. Aku ingin uang ini bisa membantuku membayar uang sekolahku.

Tapi yah, bahkan aku pun punya sesuatu yang ingin kubeli secara diam-diam (kebanyakan makanan manis murahan), jadi aku menetapkan jumlah uang bulanan untuk kuhabiskan sendiri sebanyak 500 Yen.
Kurasa inilah jumlah yang tepat untuk uang jajan anak SD.
Dan untuk sisa uangnya, kusimpan di dalam kotak perhiasan yang sedikit besar dan terkunci ini.

Akan terlalu aneh kalau seorang anak kecil menginginkan sebuah brankas, jadi sementara aku mencari gantinya, aku menemukan ini di sebuah toko perhiasan.
Kotaknya cukup kecil untuk dibawa oleh seorang anak kecil dengan kedua tangannya, dan benar-benar sempurna untuk dimasukkan uang.
Pada waktu itu Okaasama sedang bersamaku, dan aku pun segera merecokinya agar dibelikan kotak itu.
Aku yakin semua orang di sekitarku berpikir bahwa aku hanyalah gadis kecil yang tertarik dengan kilau dan cantiknya, tetapi aku sebenarnya memilihnya untuk tujuan praktis.
Meskipun Okaasama yang membelikanku seuntai kalung safir merah jambu untuk melengkapinya adalah sebuah kesalahan perhitungan.

Malam itu juga, aku langsung merobek pemisahnya yang terbuat dari beludru lembut tanpa ragu-ragu, dan mengubahnya menjadi sebuah kotak persegi panjang yang normal.
Dan kemudian, aku pun mengeluarkan semua uang yang telah kusembunyikan dalam buku kamus sampai sekarang, dan memindahkannya ke dalam kotak perhiasan yang telah beralih fungsi jadi brankas.
Persis seperti yang diduga, masih ada banyak ruang yang tersisa setelahnya, dan kelihatannya kotak ini akan cocok sebagai brankas.
Aku betul-betul menemukan sesuatu yang bagus.
Untuk memastikan aku tidak menghilangkan kuncinya, aku merekatkannya dengan selotip di bagian dalam laciku.

Dan sekarang, kadang-kadang saat malam aku akan membukanya dan cekikikan, persis seperti seorang penguasa jahat yang sedang melihat tumpukan koin-koin emasnya
(TL : And now, sometimes at night I’ll take open it up and chuckle, like an evil governor looking at his urn of gold coins. ‘Urn’ terjemahannya apa?)

“Satu, dua…”

U hu hu hu hu… aku tidak bisa menghentikan tawaku.

Walaupun masih agak kabur, setiap kami naik kelas, pemisahan kasta menjadi makin dan makin jelas.
Orang-orang yang ada paling atas, tentu saja, adalah anggota-anggota Pivoine. Hanya ada 10 orang untuk tiap tingkat, jadi ini tidak pernah berubah.
Sedangkan untuk sisanya, fakta bahwa mereka masuk Suiran saat SD saja sudah berarti kalau mereka semua adalah anggota masyarakat kelas atas, jadi pemisahan antara kasta tengah dan bawah lebih berdasarkan orangnya sendiri daripada kekuasaan keluarganya.
Kasta menengah ke atas merupakan pengikut kasta atas, dan mereka bersikap sangat menyolok
(TL : The upper-middle caste are the followers of the upper caste, and behave conspicuously.)
Untuk kasta bawah, mereka semua adalah anak-anak penurut yang melewati waktu dalam diam.

Dan kalau aku, aku adalah anggota top dalam faksi tertinggi di antara para murid perempuan.
Berkat itu aku tidak dibully atau semacamnya, tapi memang sedikit menyedihkan bahwa anak-anak yang pendiam jadi takut padaku. Jika aku harus mengatakannya, aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan tenang berbincang dengan anak-anak yang lebih lembut.
Meskipun mereka cuma anak-anak, gadis-gadis di grupku sudah bersikap cukup angkuh.
Mereka semua adalah gadis yang tidak akan pernah membeli makanan manis murahan dari sebuah toko serba ada.
Grup kami juga ada beberapa anggota Petite Pivoine, jadi kami sangat menghargai tradisi dan status sosial. Para pengikut malah lebih membanggakannya dari anggota Pivoine-nya sendiri, jadi ini cukup melelahkan.
Ketika aku memikirkan bagaimana suatu hari mereka mungkin akan menangkapku tanpa topeng Ojousama palsuku, aku malah merinding.
Aku tidak boleh menyakiti kehormatan keluarga Kisshouin, oleh karena itu aku hanya bisa tersenyum bersama-sama orang di sekelilingku.
(TL : I can’t hurt the honour of the Kisshouin family, so I smile along with my surroundings.)
Meskipun aku hanya seorang murid SD, relasi interpersonal sudah menyusahkan begini.
(TL : Even though I’m only a primary schooler, interpersonal relations are already pretty tough.)

Ketika aku sedang berjalan dengan gadis-gadis itu di belakangku seperti biasa, aku bertemu dengan Akizawa-kun yang datang dari arah berlawanan di koridor.
Melihatku, dia tersenyum dan akan melambaikan tangannya, tetapi mungkin karena gadis-gadis yang mengelilingiku lebih kuat, dia mengalihkan pandangannya, dan melewatiku sambil kelihatan sedikit ketakutan.

…Uu, aku tahu itu.
Gadis-gadis yang berkelompok itu menakutkan, bukan. Terlebih lagi grupku.
Maafkan aku, Akizawa-kun.
Akhir-akhir ini kami sudah berteman akrab di bimbel, jadi aku pun akhirnya berpikir ‘Teman laki-laki, GET!’ tapi jika dia menjadi takut padaku dan menghindariku di bimbel karena kejadian ini, aku akan merasa sedih.
Hari ini ketika aku pergi ke bimbel, aku akan minta maaf.

“Nah, tidak usah khawatir tentang itu. Aku juga mengabaikanmu tadi, jadi bukankah kita sudah seri?”

Saat aku tiba di bimbel, aku langsung berkata “Maaf telah membuatmu sulit berbicara denganku. Maafkan aku telah mengabaikanmu.” tetapi Akizawa-kun memaafkanku dengan senyum. Benar-benar anak yang baik.

“Memerlukan keberanian untuk memanggil seseorang di antara sekumpulan gadis-gadis, bukan.”

“Iya. Dan khususnya untuk kelompokmu, Kisshouin-san.”

Kupikir juga begitu.
Akizawa-kun termasuk grup kasta menengah di tingkatan kami. Dia tidak ikut seseorang yang ada di kasta atas, dan tidak sepenurut orang kasta bawah juga. Benar-benar tepat di tengah.
Kalau untuk aku, menurutku berada di posisi seperti itu kelihatannya adalah yang paling menyenangkan dan bebas, jadi aku iri dengannya.

“Apakah teman-temanmu tahu aku menghadiri bimbel yang sama denganmu?”

“Tidak. Lagian, aku belum pernah mengatakan bahwa aku ada menghadiri bimbel.”

“Ah, begitu ya. Apakah akan lebih baik tidak mengatakannya? Aku sudah memberitahukan beberapa temanku lho.”

“Aku tidak secara khusus menutup-nutupi apapun, tapi… Yah, kurasa memang lebih baik tidak usah membicarakannya.”

Bohong. Aku betul-betul menyembunyikannya.

Maksudku, jika aku memberitahu seseorang, bagaimana jika mereka ingin datang juga?
Kalau begitu, tujuan asliku pergi ke toko serba ada akan keluar jangkauanku.

“Hmm~ Jadi mungkin akan lebih baik kalau aku tidak berbicara denganmu di sekolah, Kisshouin-san. Lagian aku tidak akan bisa menjelaskan kenapa aku mengenalmu.”

“Kupikir tidak perlu sampai sejauh itu.”

Itu akan terasa seperti aku mengucilkannya, dan aku akan merasa buruk.
Dan juga, karena dia sudah ada di bimbel ini aku sudah menyerahkan keinginanku pergi ke toko serba ada, jadi tidak akan masalah bahkan jika mereka tahu sekarang.

“Mn, tapi yah, kurasa lebih baik seperti ini. Kamu memang agak berbeda di sekolah.”

“Oh? Iya yah?”

“Iya. Untuk memulainya aku yang pertama kali memulai percakapan. Aku tidak mengira kamu akan begitu mudah diajak berbicara. Seperti, kukira sikapmu akan lebih seperti, ‘Hmph, aku tidak mau diajak bicara oleh orang-orang sepertimu’.”

“Ehhhh!?”

“Ahaha.”

Memangnya seperti itu ya imej-ku?
Tidak, maksudku, aku memang punya gambaran kasarnya, tapi… ini benar-benar mengejutkan.

“Apakah aku tampak seperti orang yang begitu tak menyenangkan?”

“Eh-? Maaf, apakah aku menyakitimu? Aku tidak bermaksud mengatakannya dengan cara yang buruk. Hanya saja, anggota-anggota Pivoine terasa seperti berada di dunia yang berbeda bagiku, kurasa. Teman-temanmu bahkan memanggilmu Reika-sama.”
“Ahh…”

Menggunakan ‘-sama’ hampir sama seperti ‘gokigen’yoh’, dan merupakan sesuatu yang diwariskan di Suiran sebagai pengingat masa-masa dulu.
(TL : Using ‘-sama’ is just like ‘gokigen’yoh’, and is something left behind in Suiran as a remnant of the past.)
Cukup mudah untuk dipanggil ‘-sama’ jika kamu adalah anggota Pivoine.

“Ah-, apakah akan lebih baik kalau aku juga memanggilmu Reika-sama?”

“Tentu saja tidak.”

‘Yah kamu tidak akan pernah tahu kalau tidak bertanya,’ katanya sambil tertawa.

 

TL : Di chapter ini banyak kata-kata sulit, jadi kemungkinan besar banyak kalimat yang tidak masuk akal. Maaf ya… Kalau ada saran untuk terjemahan alternatifnya, akan lebih baik lagi. Mohon sarannya ya..

 


SebelumDaftar IsiSelanjutnya

Leave A Comment...

*